Demokrasi Paling Indah: Dulu Saling Hujat di TV, Kini Rocky Gerung dan Qodari Kompak Terima Gaji Negara dan Siap Dukung MBG

📁 Terkini | 📅 04 Oct 2026
Terkini
Sumber Foto: Tangkapan Layar Diskusi Publik & Dok. DepokFeed / Edit: NakaUpdate

NakaUpdate.com — Panggung politik Tanah Air kembali menyuguhkan kejutan menarik. Dua figur publik yang selama ini dikenal berada di garis berseberangan dan sering terlibat silat lidah sengit di panggung diskusi televisi, Rocky Gerung dan Muhammad Qodari, kini berada di bawah naungan lembaga yang sama setelah resmi masuk dalam jajaran penasihat negara.

 

Kehadiran keduanya dalam pusaran pemerintahan pun langsung mencuri perhatian publik, terlebih saat keduanya menyatakan kesiapan untuk mendukung dan mengawal program strategis pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

Dinamika ini terbilang unik mengingat rekam jejak hubungan keduanya di media massa. Dalam berbagai kesempatan debat politik, Rocky Gerung yang berlatar belakang akademisi dan pengamat sering melempar kritik tajam terhadap kebijakan negara, sementara M. Qodari sebagai direktur eksekutif lembaga survei kerap tampil memberikan pembelaan serta analisis berbasis data yang berseberangan dengan logika Rocky.

 

Namun, iklim politik yang dinamis kini membawa mereka pada babak baru. Bergabungnya kedua tokoh ini sebagai bagian dari Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) membuktikan bahwa rivalitas di layar kaca bisa mencair begitu memasuki ruang lingkar kekuasaan.

 

Tak sekadar kompak menjadi bagian dari penerima tunjangan dan gaji negara, Rocky dan Qodari kini menyelaraskan pandangan untuk memberikan masukan strategis bagi jalannya pemerintahan. Salah satu fokus utama yang mendapat sorotan adalah komitmen mereka dalam mengawal implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar tepat sasaran dan berdampak nyata bagi masyarakat.

 

Fenomena ini pun memancing beragam reaksi satire dan candaan dari netizen di media sosial. Banyak yang menilai perseteruan panas yang kerap disaksikan publik di panggung debat sejatinya hanyalah bagian dari panggung sandiwara politik, di mana pada akhirnya semua figur dapat bertemu pada titik kesepakatan yang sama.